Blog Sharing Informasi Kependidikan, Berbagi dan Berkolaborasi dalam Pembelajaran
Jumat, 26 Januari 2018
SILABUS OSN 2018 MAPEL IPA
Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan salah satu program Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka
peningkatan mutu pendidikan terutama di bidang sains. Hal ini merupakan
wadah bagi siswa untuk mengimplementasikan Penguatan Pendidikan Karakter
(PPK) melalui sains dalam upaya mengembangkan wahana kompetisi bagi siswa
SMP/MTS Negeri atau Swasta yang sederajat di seluruh Indonesia di bidang
Matematika, IPA, dan IPS. Diharapkan melalui olimpiade ini dapat meningkatkan
atmosfr kompetisi secara sehat dan jujur antar sekolah, sehingga sekolah
berlomba-lomba mengembangkan program peningkatan mutu pembelajaran
dalam mata pelajaran Matematika, IPA, dan IPS dan mengantarkan para siswa
Indonesia mencintai sains. \
Sejak OSN SMP dilaksanakan, banyak sekolah yang telah termotivasi untuk
mengembangkan program peningkatan mutu pembelajaran Matematika, IPA,
dan IPS. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dampak positif dari kegiatan OSN
sudah tampak dan sudah menjadi gerakan nasional untuk mengembangkan
pendidikan sains mulai skala sekolah, pembinaan kecamatan, kabupaten/kota,
provinsi dan nasional.
Agar dampak positif tersebut dapat meluas dan tersebar di 34 provinsi, perlu
dukungan informasi yang dapat membantu sekolah dalam rangka akselerasi
program peningkatan mutu pembelajaran Matematika, IPA, dan IPS terutama
dalam rangka Pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP mulai dari
tingkat Kabupaten/Kota, tingkat Provinsi dan tingkat Nasional.
Klik Disini Download SILABUS OSN IPA 2018
Rabu, 20 Desember 2017
E-Rapor Untuk SMP
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan menjelaskan bahwa penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penilaian hasil belajar dimulai dengan merencanakan penilaian, menyusun instrumen, melaksanakan penilaian, mengolah dan memanfaatkan, serta melaporkan hasil penilaian.
Proses penilaian hasil belajar peserta didik, baik oleh pendidik maupun oleh satuan pendidikan, akan lebih sistematis, komprehensif, lebih akurat, dan cepat dilakukan apabila didukung dengan perangkat aplikasi komputer. Berkaitan dengan hal tersebut, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengembangkan aplikasi e-Rapor utuk SMP yang terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), termasuk panduan penggunaannya.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas peran berbagai pihak dalam penyusunan aplikasi e-Rapor ini. Secara khusus disampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada tim pengembang yang telah bekerja keras dalam menuntaskan aplikasi e-Rapor beserta panduannya. Masukan dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk penyempurnaan aplikasi e-Rapor lebih lanjut.
Berikut Surat Edarannya.
Download Aplikasi
Panduan-Panduan
Website Resmi SMP Negeri 1 Barru
SMP NEGERI 1 BARRU "BER-KIBAR"
"KREATIF, INOVATIF, BERDAYA SAING, DAN RELIGIUS"
-Sekolah Rujukan dan Berkarakter-
Seiring kemajuan perkembangan teknologi abad 21 yang mengedepankan sarana teknologi berbasis online sebagai penyedia informasi, SMP Negeri 1 Barru adalah salah satu sekolah di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi-Selatan yang mengedepankan penyebaran informasinya melalui website resminya yaitu http://smpn1barru.sch.id/, website yang dikembangkan melalui kerjasama stakeholder sekolah yang yang diketuai langsung oleh Kepala Sekolah dalam hal ini bapak Lukman, S.Pd, M.Si dan Koordinator Tim Pengembang website oleh Abdul Zakaria, S.Pd, M.Pd Dkk, diharapkan dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca online yang memang membutuhkan informasi kegiatan-kegiatan di lingkup kelembagaan SMP Negeri 1 Barru.
Berikut tampilan beranda website SMPN 1 Barru.
Berikut tampilan beranda website SMPN 1 Barru.
Hadirnya website ini memungkinkan SMP Negeri 1 Barru yang salah satu sekolah rujukan yang mengedepankan pembangunan karakter di Provinsi Sulawesi Selatan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain yang telah memanfaatkan teknologi dan informasi berbasis online. Semoga website ini bermanfaat bagi para user/pembaca sekalian.
Salam Edukasi dari Kami
Tim Pengembang SMP Negeri 1 Barru
Senin, 18 Desember 2017
Visi Misi SMP Negeri 1 Barru
Visi :
“Unggul
dalam Prestasi, berlandaskan iman
dan taqwa untuk mengabdikan diri terhadap pembangunan berwawasan lingkungan ”.
Misi:
Misi SMP Negeri 1 Barru adalah sebagai
berikut :
1.Melaksanakan Pembelajaran dan bimbingan secara efektif untuk mengembangkan pembelajaran secara optimal berdasarkan standar nasional pendidikan.
2. Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama sehingga menjadi sumber kearifan dalam berperilaku
3.Memfasilitasi pengembangan bakat,minat dan daya kreasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler.
4.Menerapkan menejemen parsitipatif dan demokratis dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
5.Mernumbuhkan peran warga sekolah terhadap pembangunan berwawasan lingkungan.6. Menyelenggarakan pendidikan yang menjiwai nilai-nilai bersih, rapi, sopan, santun, religius, dan disiplin.
7.Menyelenggarakan pendidikan yang peduli terhadap pelestarian lingkungan, mencegah pencemaran dan mencegah kerusakan lingkungan hidup.
1.Melaksanakan Pembelajaran dan bimbingan secara efektif untuk mengembangkan pembelajaran secara optimal berdasarkan standar nasional pendidikan.
2. Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama sehingga menjadi sumber kearifan dalam berperilaku
3.Memfasilitasi pengembangan bakat,minat dan daya kreasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler.
4.Menerapkan menejemen parsitipatif dan demokratis dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
5.Mernumbuhkan peran warga sekolah terhadap pembangunan berwawasan lingkungan.6. Menyelenggarakan pendidikan yang menjiwai nilai-nilai bersih, rapi, sopan, santun, religius, dan disiplin.
7.Menyelenggarakan pendidikan yang peduli terhadap pelestarian lingkungan, mencegah pencemaran dan mencegah kerusakan lingkungan hidup.
Selasa, 21 November 2017
PENJELASAN ARTI LAMBANG SEKOLAH SMP NEGERI 1 BARRU KAB.BARRU
PENJELASAN ARTI LAMBANG SEKOLAH SMP NEGERI 1 BARRU KAB.BARRU
Oleh: Tim Pengembang Sekolah SMP Negeri 1 Barru
Dengan Visi Sekolah : “UNGGUL DALAM PRESTASI, BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA UNTUK MENGABDIKAN DIRI TERHADAP PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN ”
Dengan Penjelasan Lambang Sebagai berikut:
1. Perisai Biru dengan Pinggiran Merah, merupakan arti dari Sekolah SMPN 1 Barru memiliki kepercayaan diri dan dapat berinteraksi dengan baik di lingkungan sekitarnya, tentunya dengan berani bertahan dari segala pengaruh negatif dari luar.
2. Tulisan “SMP NEGERI 1” berwarna kuning, memberikan ciri kekuatan bahwa sekolah ini sekolah pertama yang berdiri di kecamatan Barru.
3. Bintang Berwarna Kuning, memiliki arti bahwa Sekolah SMP Negeri 1 Barru selalu menjadi terbaik dan cemerlang diantara lembaga pendidikan formal setingkat di wilayah Kabupaten Barru dalam hasil meningkatkan prestasi yang berlandaskan iman dan taqwa pada peserta didik serta lulusannya.
4. Sayap Putih yang berjumlah 8, melambangkan bahwa sekolah SMP Negeri 1 Barru memiliki niat tulus dalam membangun masa depan dengan landasan delapan (8) Standar Nasional Pendidikan Negara Republik Indonesia yaitu : 1) Kompetensi Kelulusan, Isi, Proses, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Sarana dan Prasarana, Pengelolaan, Pembiayaan Pendidikan serta Penilaian Pendidikan.
5. Pena Berwarna hijau diatas buku berwarna merah putih, memiliki makna bahwa sekolah SMP Negeri 1 Barru sebagai lembaga pendidikan formal mengabdikan diri terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) Negara Republik Indonesia yang berorientasi terhadap perbaikan lingkungan.
6. Tulisan " BARRU " dengan letter hitam diatas pita yang berwarna kuning, mengandung arti bahwa sekolah ini mampu memberikan kekuatan sumber daya manusia (SDM) yang terbaik kepada Kabupaten Barru.
7. Tulisan “1957” berwarna kuning, menandakan tahun berdirinya sekolah SMP Negeri 1 Barru yang memiliki arti sekolah ini mampu kuat bertahan dari tantangan zaman yang dilewatinya.
‘’SMP Negeri 1 Barru Ber-KIBAR (Kreatif, Inovatif, Berdaya Saing dan Religius’’
Senin, 02 Oktober 2017
SMP Negeri 1 Barru dalam Keterampilan Berpikir Kreatif
SMP Negeri 1 Barru dalam Keterampilan Berpikir Kreatif
Oleh: Faisal Can Putra, M.Pd (Guru IPA SMP Negeri 1 Barru)
Keterampilan Berpikir
kreatif (creative thingking skills) berhubungan erat dengan daya cipta seseorang. Rogers (1962) memberikan pemamaparan bahwa sumber dari
kreatifitas adalah kecenderungan pengaktualisasian diri, mewujudkan
potensi, dorongan untuk menjadi berfikir matang, kecenderungan untuk mengekspresikan diri
dan mengaktifkan semua kemampuan organisme sedangkan Clark Moustakis (1967)
memberikan asumsi bahwa kreatifitas adalah pengalaman mengekspresikan dan
mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungannya
dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.
Indikator berpikir kreatif telah
dipaparkan sebelumnya bahwa ada ditinjau dari empat (4) aspek yang menjadi tolok ukur dalam
berpikir kreatif yaitu aspek fluency,
flexibility, originality, dan elaboration
sehingga sesorang dapat dikatakan telah berpikir kreatif aabila telah
menunjukkan berbagai hal yang bekenaan dengan indikator diatas seperti
kebiasaan berpikir, sikap, pembawaan, kepribadian, atau kecakapan dalam
memecahkan masalah.
Indikator berpikir kreatif dapat dijabarkan dalam bentuk tabel berikut.
Tabel
Indikator
Berfikir Kreatif
No.
|
Aspek
|
Penjelasan/Ciri-Ciri
|
1.
|
Fluency (kelancaran)
|
a.Mencetuskan
berbagai banyak ide, jawaban dengan lancar.
b.Memberikan
banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
|
2.
|
Flexibility (Kelenturan)
|
a. Menghasilkan
gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat masalah dari
sudut pandang yang berbeda-beda.
b. Mencari
banyak alternative atau arah yang berbeda-beda
c. Mampu
mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
|
3.
|
Originality (Keaslian)
|
a. Mampu
melahirkan ungkapan baru dan unik.
b. Memikirkan
cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri.
c. Mampu
membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau
unsur-unsur.
|
4.
|
Elaboration (kerincian)
|
a. Mampu
memperkaya dan mengembangkan suatu
gagasan atau produk.
b. Menambah
atau melakukan rincian terhadap suatu obyek, gagasan, atau situasi, sehingga
menjadi lebih menarik.
|
Sumber: Munandar (2012)
Selain
indikator dalam pengembangan berpikir kreatif juga diperlukan alat ukur dalam penentuan ketercapaian berpikir
kreatif yaitu:
1) Tes
kemampuan berfikir divergen (Guilford)
Model tiga dimensi dari Guilford
tentang struktur intelek mencakup dimensi operasi (proses) dengan lima kategori mental, dimensi content empat kategori, dan dimensi
produk dengan enam kategori (Munandar, 2009). Berbagai Macam tes berfikir
kreatif dari Guilford yang mengukur kemampuan berfpikir divergen terutama
digunakan untuk kelompok remaja dan orang dewasa, meskipun ada juga untuk anak-anak
tapi dibatasi pada umur tertentu.
2)
Tes Torrance Mengenai kemamapuan berfikir kreatif.
Tes Torrance ini
dimaksudkan untuk memicu ungkapan secara simultan (serentak) dari beberapa
operasi mental kreatif yang terutama mengukur kelancaran, kelenturan, orisinalitas,
dan kerincian (elaborasi). Tes ini disusun sedemikian rupa untuk membuat
aktivitasnya menarik dan menantang peserta didik mulai dari pendidikan
pra-sekolah sampai sekolah menengah. Tes Torrance dapat diberikan secara
perseorangan maupun kelompok. Bentuk verbal terdiri atas tujuh sub-tes:
mengajukan pertanyaan, menerka sebab, menerka akibat, memperbaiki produk,
penggunaan tidak lazim, pernyataan tidak lazim, dan aktifitas yang diandalkan.
Tes figural terdiri dari tiga sub-tes:
tes bentuk, gambar yang tidak lengkap, dan tes lingkaran. Tes verbal diberi
skor untuk kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas, sementara tes figural
ditambah dengan skor untuk elaborasi.
Tes Torrance juga diberi batas waktu atas
dasar pertimbangan baha sa sampai derajat tertentu harus ada press (pendorong) untuk memicu fungsi
mental kreatif dengan tetap memberikan dorongan untuk merangsang berfikir
kreatif.
3) Tes
berfikir kreatif-produksi menggambar
Tes ini biasa juga disebut Test For Children Creative Thingking
–Drawing Production (TCP-DP). Tes ini berbeda dengan kedua tes diatas
karena skornya tidak berdasar pada kelangkaan secara secara statistis, tetapi
apa yang disebut image production.
Responden diminta untuk menyelesaikan gambar yang tidak lngkap,
(rangsangan-rangsangan figural), dan penilaiannya mencakup sembilan dimensi,
yaitu: melengkapi, melanjutkan, unsur baru, hubungan yang dibuat dengan garis,
hubungan yang berkaitan dengan tema, melintasi batas (dua kriteria), perspektif
dan humor.
4) Berfikir
kreatif dengan bunyi dan kata
Ukuran talenta kretif lainnnya berhubungan
dengan orisinalitas dan imajinasi; tamsil (imaginery)
dan analogi, yaitu thingking creativity with sound and words). Tes ini
berisikan dua ukuran orisinalitas verbal yang salah satunya menstimulus
rangsangan berupa bentuk suara bunyi denganrantang dari bunyi yang sederhana
sampai bunyi yang rumit. Suara-suara ini akan memunculkan reapon intelektual
manusia yang berinteraksi dengan emosi sehingga memunculkan tanggapan yang
imajinatif.
5) Inventory Khatena- Torrance mengenai
perspektif kreatif.
Istrument
ini biasa disebut Khatena-Torrance Creative
Perception Inventory yang dirancang untuk anak umur 10-11 tahun remaja
maupun dipergunakan juga untuk orang dewasa. Instrument ini dikembangkan dengan
melihat atau mengamati diri seseorang, melalui daftar periksa, kuisioner, dan
inventory. Dimana dimensi dari pengukuran ini terdiri dari dua dimensi
yaitu didasari pertimbangan bahwa diri seseorang
mempunyai keakuan secara psikologis dengan cara perilaku kreatif maupun tidak
kreatif dalam artian bahwa ada upaya untuk menunjukkan siapa jati dirinya melalui tindakan kreatif.
Dimensi berikutnya adalah didasari bahwa kreatifitas itu tercermin dari
karakteristik kepribadian orang itu sendiri, dalam cara berfikirnya dan dalam
produk-produk yang muncul sebagai hasil dari dorongan kreatif bagi peserta didik SMPN 1 Barru.
Berkenaan dengan hal tersebut penumbuhan pemikiran kreatif bagi peserta didik khususnya di SMP Negeri 1 Barru Sangat Perlu dilatihkan sebagai modal dasar dalam kompetensi abad 21 yang sekarang ini digencarkan oleh pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan yang tertuang dalam kurikulum 2013.
Senin, 18 September 2017
Model Desain Pembelajaran J. Kemp
J. Kemp: Model Desain Pembelajaran
Oleh: Faisal Can Putra, M.Pd
Desain pembelajaran menurut Kemp, terdiri dari banyak bagian dan fungsi
yang saling berhubungan dan mesti dikerjakan secara logis agar mencapai apa
yang diinginkan.Rencana pembelajaran di desain untuk menjawab tiga pertanyaan,
ini merupakan pertanyaan terhadap hal-hal yang diperlukan dalam mendesain
pembelajaran yaitu:
1. Apa yang mesti diajarkan?
2. Apa prosedur dan sumber yang akan bisa untuk menjangkau mutu
pembelajaran yang diinginkan?
3. Bagaimana caranya kita untuk mengetahui nilai yang diperoleh dari pembelajaran tersebut?
Pada dasarnya,perencanaan dalam desain pembelajaran terdiri atas delapan langkah:
a. Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
b. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
d. Menentukan isi meteri pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
e. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
f. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenagkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
h. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan.
3. Bagaimana caranya kita untuk mengetahui nilai yang diperoleh dari pembelajaran tersebut?
Pada dasarnya,perencanaan dalam desain pembelajaran terdiri atas delapan langkah:
a. Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
b. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
d. Menentukan isi meteri pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
e. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
f. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenagkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
h. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan.
Pada gambar diatas dapat disimpulkan bahwa adanya saling ketergantungan antara
delapan komponen.Keputusan terhadap satu bagian saja akan berpengaruh pada yang
lain, jadi dalam merancang suatu desain pembelajaran dibutuhkan ketelitian
serta kecermatan dalam membuat suatu keputusan yang akan berdampak bagi hasil
yang akan dicapai.
1. Tujuan, Topik, dan Tujuan Umum
Tujuan di perlukan agar hasil
perencanaan nantinya dapat mengembangkan kompetensi yang akan menolong pelajar
agar dapat bepartisipasi dalam lingkungan masyarakat, selain itu, tujuan mesti
mengenal perubahan dalam kebutuhan pelajar dan keterkaitannya dengan apa yang
seharusnya diberikan pada siswa.
Semua program pembelajaran hendaknya
didasarkan pada pengembangan tujuan dan tujuan-tujuan itu dapat diambil dari
tiga sumber yaitu masyarakat, pelajar itu sendiri, dan kawasan
pembelajaran.Sebenarnya, tujuan-tujuan itu terdiri atas filsafat dan dari
pertimbangan etika serta tuntutan dari masyarakat yang menghendaki hasil(out
put) pembelajaran tersebut.
Sebuah perencanaan mesti menentukan
topik utama.Topik tersebut akan menjadi cakupan program pembelajaran yang
dibuat.Topik biasanya disusun secara logis, paling simpel, dan konkret sehingga
orang dapat lansung melihat gambaran dari rencana program pembelajaran
tersebutTopik dapat disusun berdasarkan pengalaman yang didapat atau pemikiran
yang menjadi dasar sesuatu yang akan dibuat.
Ketika tim pembelajaran untuk kali
pertama menentukan tujuan umum, banyak dari mereka yang menggunakan
istilah-istilah penting sebagai penunjang atau penggambaran topik agar dapat
memahami dengan benar keluaran(output) dari rancangan pembelajaran.
Berikut beberapa pernyataan dari
tujuan umum yang biasanya digunakan untuk menggambarkan topik:
ü Uutuk
memperoleh kemampuan apa
ü Untuk menilai
ü Untuk
menjadi tahu akan
ü Untuk
menjadi akrab dengan
ü Untuk
dikenalkan pada
ü Untuk
percaya dalam
ü Untuk
memahami
ü Untuk
memutuskan
ü Untuk
menikmati
ü Untuk
mengetahui arti dari
ü Untuk
memiliki perasaan pada
ü Untuk
mengenali
ü Untuk belajar
ü Untuk meniru
ü Untuk
menguasai
ü Untuk
merasakan
ü Untuk
mengerti
ü Untuk
menggunakan
Jadi
perencanaan pembelajaran sering dimulai dengan pernyataan yang berorientasikan
pada tujuan umum bagi topik yang telah ada sebelumnya.
2. Karakteristik Pelajar
Ketika mendesain sebuah rencana
pembelajaran, kita mesti cepat memutuskan karakteristik dari siswa karena
dengan mengetahui karakteristik tersebut sangat membantu dalam membuat
perencanaan pembelajaran. Faktor-faktor yang mesti diperhatikan dalam membantu
menentukan karakteristik siswa yaitu:
Faktor
akademi,antara lain jumlah siswa, latar belakang akademi/ pendidikan, rata-rata
nilai, tingkat kepintaran, tingkatan membaca, prestasi dan tes kemampuan, adat
kebiasaan, kemampuan untuk bekerja sendiri, latar belakang pelajaran atau
topik, motivasi untuk belajar, harapan-harapan belajar, dan aspirasi
kebudayaan.
Faktor soial, antara lain umur,
tingkat kematangan, bakat spesial, emosi dan kejiwaan, hubungan antar pelajar.
Informasi-informasi dari kandungan
faktor-faktor di atas dapat diperoleh dari kumpulan catatan siswa dan dari
konsultasi dengan guru-guru, bimbingan konseling, dan lain-lain. Hasil dari
daftar informasi tersebut, sebaiknya ditambah dengan survai perilaku dan tes
awal.
Faktor lain seperti kondisi dan gaya
belajar juga mesti dicatat dan diperhatikan pada saat perencanaan agar
ciri-ciri pelajar yang diidentifikasi dapat lebih sempurna.
3. Tujuan Pembelajaran
Semua tujuan pembelajaran mesti
diwujudkan sebagai syarat yang akan meningkatkan aktivitas pembelajaran.Dengan
menciptakan tujuan-tujuan yang pasti, kita dapat mengetahui dengan jelas apa
yang ingin kita ajarkan dan kemudian dapat memutuskan apa-apa saja yang telah
dicapai.
Menentukan tujuan merupakan sebuah
aktivitas yang bersifat pengembangan yang meminta ketelitian, perubahan, dan
penambahan. Bagi sebagian guru, tujuan dapat menjadi jelas setelah pelajaran
dibuat garis besarnya.
Kategori dari tujuan pembelajaran
dapat dikelompokkan mejadi tiga bagian yaitu:
Kognitif,
merupakan kategori yang memberikan perhatian yang lebih dalam program
pendidikan. S.Bloom.dkk, sebuah taksonomi bagi kognitif. Dalam hal ini, dia
(kognitif) dimulai dari pengetahuan sederhana sampai tingkat tertinggi yaitu:
a. Mengetahui,
merupakan kemampuan untuk mengingat, mengulang kembali apa yang didapat dan
lain sebagainya;
b. Memahami,
merupakan kemampuan untuk menafsirkan informasi yang diperoleh;
c. Penerapan
atau aplikasi, merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi,
teori-teori, prinsip-prinsip/ hukum-hukum dari situasi baru;
d. Analisis,
merupakan kemampuan untuk membagi pengetahuan yang rumit menjadi bagian-bagian
yang terurai dan mengetahui hubungan tiap bagian;
e. Sintesis,
merupakan kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian yang terpisah menjadi bentuk
baru;
f. Evaluasi,
merupakan kemampuan untuk menilai berdasarkan pada pengetahuan / pemberian
kriteria.
Kriteria
yang kedua adalah psikomotor.Ini adalah kemampuan dalam menggunakan dan
mengkoordinasi otot rangka dalam aktivitas fisik dan melakukan sesuatu.
Psikomotor ini meliputi:
Ø Pergerakan
tubuh yang kasar;
Ø Pergerakan
halus dikoordinasi;
Ø Komunikasi
non-lisan;
Ø Tingkah laku
berbicara.
Kategori
yang ketiga adalah afektif.Ini meliputi sikap, penilaian atau penghargaan,
nilai-nilai dan emosi seseorang.David R.Krathwohl.dkk membagi afektif dalam
lima tingkatan:
1. penerimaan,
keinginan untuk memberikan perhatian pada sebuah aktivitas;
2. menanggapi,
keinginan untuk mereaksi sesuatu;
3. Penilaian,
keinginan untuk menerima sesuatu melalui sikap yang positif;
4. Pengorganisasian,
ketika menemukan situasi yang memiliki lebih dari satu penerapan, keinginan
untuk mengorganisasi nilai dapat digunakan;
5. Penggambaran
sebuah nilai yang kompleks.
Sekarang
kita beralih pada prosedur dalam penulisan tujuan pembelajaran.adapun prosedur
dalam menulis tujuan tersebut yaitu:
a. Dimulai
dengan sebuah tindakan yang menggambarkan perilaku/ aktivitas oleh pelajar;
b. Mengikuti
perilaku dengan referensi yang menggambarkan sesuatu yang lagi disenangi;
c. Jika bagian-bagian
yang diperlukan tersebut memerlukan beberapa hitungan, tambahkan standar performance
yang mengidentifikasi pencapaian minimum yang dapat diterima;
d. Sebagai
kebutuhan pemahaman siswa dan agar menetapkan keperluan evaluasi, tambahkan
beberapa kriteria-kriteria;
Tujuan
perencanaan pembelajaran juga memiliki keuntungan dan kelemahan, antara lain:
Kelebihan
- Kerangka dari beberapa tujuan program
pembelajaran dibuat atas kompetensi dasar, dimana siswa menguasai
pembelajaran merupakan sebuah harapan untuk dapat menjadi dampak
dikemudian hari;
- Tujuan menginformasikan siswa apa yang akan
dituntut atau diminta dari mereka;
- Tujuan membantu perancang program pembelajaran
untuk berpikir secara jelas dan mengatur serta mengurutkan seuatu;
- Tujuan mengidentifikasi tipe dan meningkatkan
aktivitas yang diperlukan untuk menyukseskan pembelajaran;
- Tujuan menyediakan dasar pengevaluasian dengan
pembelajaran siswa;
- Tujuan menyediakan sesuatu yang baik untuk
berkomunikasi.
Kelemahan
- Hampir semua tujuan berhubungan dengan tingkat
kognitif yang rendah;
- prosedur digunakan untuk menetapkan penerapan
tujuan yang baik untuk kognitif dan psikomotor namun afektif tidak
demikian;
- Pada saat tujuan boleh jadi digunakan dalam
pembelajaran yang membutuhkan struktur kandungan yang tinggi seperti
matematika dan sains, mereka dibatasi menggunakan sesuatu yang erat dengan
kemanusiaan seperti seni, ilmu sosial dan lain sebagainya;
- Guru tidak dapat menentukan semua dampak kemajuan
dari program pembelajaran;
- Membuat pembelajaran terlalu bersifat mekanik dan
perorangan.
4. Menentukan Isi Materi
Materi harus berdasarkan pada tujuan
pembelajaran. Karena bagian terpenting dari desain pembelajaran terletak pada
tujuan pembelajaran itu sendiri. Dalam beberapa kasus, isi dari materi
pembelajaran adalah turunan dari tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran dapat diartikan
sebagai apa yang akan dituju oleh materi pembelajaran. Atau dengan kata lain,
tujuan pembelajaran adalah hasil dari materi pembelajaran.
Dalam pembelajaran yang bersifat
tradisional biasanya para guru menjadikan materi pembelajaran sebagai titik
berangkat dario sebuah pembelajaran dan hal itu masih banyak terjadi hingga
hari ini.
Ada beberapa hal yang harus kita
perhatikan dalam mengorganiusir isi pembelajaran. Ada beberapa hal yang harus
kita lakukan dalam menentukan isi pembelajaran yaitu mencakup pemilihan dan
pengaturan dari pengetahuan yang spesifik, skill, dan faktor sikap / pendirian.
Dalam menetukan level tujuan kita
dapat memakai prinsip pembelajaran behavior-nya Gagne yaitu fakta, konsep, hal
– hal yang terpenting, dan problem solving.
Jika siswa sudah mempelajari hal –
hal penting dalam suatu pembelajaran maka selanjutnya diharapkan mereka dapat
mengaplikasikannya dan dapat dikorelasikan dengan situasi masalah. Langkah –
langkah itu adalah:
- menerangkan kejadian;
- menduga alasan;
- memprediksi konsekuensi;
- mengontrol situasi;
- dan memecahkan masalah.
5. Penilaian Awal
Penilaian
awal memiliki peranan yang cukup penting dalam model desain ini. Dengan
melakukan hal ini kita dapat mengetahui tingkat pengetahuan yajg dimiliki oleh
murid. Mengetahui kondiosi pengetahuan murid sangat membantu kita dalam
mendesain pembelajaran.
Penilaian
awal juga dapat membantu untuk mengevisiensikan pembelajaran. Dengan melakukan
tahapan ini kita dapat mengetahui tingkatan pengetahuan murid. Dengan demikian
seorang murid tiodak perlu membuang – buang waktu untuk mempelajari kembali
materi yang telah mereka kuasai. Ada dua hal yang dapat kita lakukan dalam Pre-Assessment
yaitu prerequisite test dan pretest.
Identifikasi Pengalaman Siswa
Hal ini dilakukan untuk mengetahui
apakah siswa memiliki pengalaman / ilmu yang terkait dengan materi yang akan
diberikan. Tes ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti menyebar
angket, melihat hasil pekerjaan siswa, mengobservasinya ketika tengah bekerja,
atau dengan wawancara. Dengan melakukan proses ini kita dapat memilah dan
memilih materi apa saja yang tidak perlu disampaikan, disampaikan sebagian
saja, atau bahkan disampaikan mulai dari tingkatan dasar.
Pretest
Tahapan lainnya dalah pretest.
Pretest dilakukan untuk pemahaman siswa terhadap materi yang akan
diberikan. Untuk beberapa kasus ada yang mendampingkan pretest dengan posttest
dengan demikian kita dapat meihat hasil pembelajaran dengan membandingkan
hasil pretest dan posttest. Keuntungan lainnya adalah hasil posttest
dapat digunakan sebagai prerequisite test untuk materi lain yang
memiliki keterklaitan dengan materi ini.
Dalam pelaksanaannya, pretest tidak
selalu harus dilakukan dengan konsep formal. Misalnya saja kita dapat bertanya
langsung pada siswa di dalam kelas. Kita dapat bertanya berapa banyak di antara
mereka yang telah mengerti dengan materi yang akan diberikan. Jumlah siswa
yanhg mengangkat tangan dapat menjadi data yang sangat berguna bagi kita.
Di lapangan, pretest tidak
terlalu berpengaruh pada pembelajaran tradisional yang masih bersifat masif
karena pembelajaran seperti itu lebih terkesan menyamaratakan kondisi siswa.
Tapi manfaat dari pretest dapat kita ambil ketika kita melakukan
pembelajaran yang bersifat personal.
Manfaat lainnya adalah untuk
mengenalkan siswa pada materi yang akan dia pelajari. Namun, ada yang harus
kita perhatikan ketika kita melakukan pretest, faktanya tidak semua
siswa siap dalam menmghadapi tes seperti itu. Sebelumnya kita harus
memberitahukan bahwa hasil dari tes ini tidak ada sngkut pautnya dengan nilai
yang akan ,mereka peroleh.
6 Aktivitas Belajar Mengajar dan
Sumber – Sumber Pembelajaran
Tahapan ke
enam dari model pembelajaran Kemp membicarakan tentang aktifitas belajar –
mengajar dan sumber – sumber bejalar. Pada tahapan ini dijelaskan tentang
bentuk – bentuk dari kegiatan bejalar yang efektif dan media – media yang dapat
dijadikan sebagai sumber belajar.
Dalam
melakukan proses pembelajaran hendaknya kita memilih alternatif kegiatan yang
paling efektif dan sesuai dengan keadaan siswa. Namun demikian sebenarnya tidak
ada rumus yang baku untuk mensinkronkan alternatif jenis kegiatan pembelajaran
dengan kebuituhan dan kodisi siswa. Namun kita masih dapat menentukan jenis
alternatif pembelajaran dengan cara menganalisis setiap kelebihan dan
kekurangannya lalu disinkronkan dengan keadaan siswa.
Umumnya para
guru dapat mendesain pembelajaran dengan bantuan buku manual. Namun hal itu
hanya terbatas pada pembelajaran yang bersifat tradisional saja. Padahal ilmu
pendidikan senantiasa berkembang dan terus mengeluarkan produk – produk baru
yang lebih canggih lagi. Dari sinilah masalah muncul, karena para guru tidak
menguasai produk – produk baru tersebut. Di sinilah peran seorang pendesain
diperlukan.
Bentuk Pembelajaran
Dalam
perkembangan selanjutnya ada tiga alternatif pembelajaran yang memiliki
kelebihan jika dibanding dengan alternatif lainnya. Tiga alternatif itu adalah
presentasi group presentation, individualized learning, dan interaction
between teacher and student.
Ada beberapa
alasan yang mendasari ketiga alternatif pembelajaran di atas. Bentuk
pembelajaran di atas dilinai lebih efisien dan efektif karena dengan melakukan
presentasi proses penyampaian informasi lebih bersifat massif. Selain itu
setiap siswa memiliki kondisi poercepatan pemahan yang berbeda dalam memahami
suatu materi.
a. Group Presentation
Pada kegiatan ini guru atau siswa
melakukan sebuah presentasi untuk menyampaikan sebuah materi. Kegiatan seperti
ini harus ditunjang oleh tempat yang memadai seperti di dalam kelas atau aula.
Dalam pelaksanaannya penyaji dapat menggunakan alat bantu untuk menyampaikan
presentasinya alat iotu dapat berupa media audio, visual, atau audio visual.
Ada tiga karakter manusia yang akan
ditunjukkan oleh siswa dalam kegiatan ini. Karakter pertama adalah siswa yang
aktif berinteraksi. Siswa akan aktif dalam kegiatan diskusi, ia akan
berpendapat, bahkan tetap berkonsultasi dengan penyaji setelah kegiatannya
selesai. Tipe kedua adalah siswa yang hanya bekerja di tempat duduknya. Dan
karakter ketiga adalah siswa yang bersifat kritis pada setiap materi yang
disampaikan oleh penyaji dan biasanya keikutsertaannya lebih cenderung ke arah
banyak bertanya.
b. Individualized Learning
Yang melatar belakangi konsep ini
adalah bahwa setiap orang memiliki tingkat kecerdasan dan percepatan pemahaman
yang berbeda. Selain itu setiap siswa juga memiliki pola pikir dan cara belajar
yang berbeda. Untuk itu, guru harus dapat mendesain jenis pembelajaran yang
sesuai dengan keadaan dan karakteristik yang dimiliki oleh siswa. Istilah lain
untuk bentuk pembelajaran seperti ini adalah self instruction, independent
study, individualized prescribed instruction, dan self directed atau
self-paced learning.
c. Interaction between Teacher and
Students
Format pembelajaran seperti ini
adalah pembentukan kelompok – kelompok kecil. Dalam kelompok itu guru dan siswa
melakukan diskusi dan saling bertukar pikiran sehingga dapat terjadi proses
mengambiol pelajaran dari peserta lainnya dengan metode ini juga setiap peserta
akan dapat saling memahami karakter satu sama lain.
Agar memperoleh hasil yang maksimal,
maka anggota kelompok ini harus dibatasi. Kelompok ini terdiri dari tujuh
sampai 12 orang. Ada beberapa kelebihan yang dapat diambil dari model ini.
Dengan model ini para peserta akan terlatih dalam kemampuan mendengar dan
berbicara. Hal ini terlatih ketika mereka tengah menyampaikan pendapat. Selain
itu, bentuk ini juga melatih kepemimpinan.
Sumber Belajar
Hal penting yang tidak boleh kita
lupakan adalah media sumber belajar. Hendaknya kita memilih media yang cocok
dengan kondisi dan materi yang akan diberikan. Media yang baik dapat memotifasi
siswa dan dapat menjelaskan materi secara efektif serta mengilustrasikan isi
materi. Media yang digunakan dapat bermacam – macam. Media yang digunakan dapat
berupa media cetak, media audio, media visual, dan media audio visual yang
terpenting media itu dapat menunjang kegiatan personal maupun kelompok.
7 Sarana Penunjang
Selanjutnya
kita memerlukan beberapa hal yang dapat menunjang program pembelajaran. Hal itu
diantaranya adalah biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan jadwal, serta
kordinasi dengan aktifitas lainnya.
a. Biaya
Dana
merupakan hal yang amat krusial dalam pengembangan pendidikan. Semua program
baru yang akan dipakai tentunya memerlukan dana untuk memulainya. Sekolah yang
ingin mengembangkan program pendidikannya misalnya saja dengan membuat inovasi
baru, penelitian, dan pengembangan memerlukan biaya untuk menjalankannya.
Pemanfaatan biaya dilakukan ketika masa pengembangan dan selama pemakaian
peralatan.
b. Fasilitas
Proses
pembelajaran tentunya membutuhkan fasilitas yang memadai untuk
keberlangsungannya. Berikut adalah kegiatan beserta fasilitas yang
dibutuhkannya.
- Dalam kegiatan presentasi, kita membutuhkan
proyektor audio visual, sound sistem, dan perlengkapan lainnya.
- Tempat pembelajaran mandiri. Merupakan sebuah
tempat yang diperuntukkan untuk para siswa dalam melakukan proses
pembelkajaran mandiri.
- Ruangan untuk kegiatan belajar kelompok. Ruangan
ini didesain dengan furniture yang tidak formal. Kemudian dilengkapi
dengan proyektor audio visual, dan papan display misalnya papan tulis.
- Ruang peralatan. Ruang ini digunakan untuk
menyimpan barang – barang yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.
Dari ruang ini pula dikordinirnya setiap peralatan yang digunakan untuk
membantu proses pembelajara.
- Ruang rapat untuk staff.
c. Peralatan
Dalam
menjalankan program yang telah dijalankan tentunya kita memerlukan beberapa
peralatan untuk menunjang kegiatan tersebut. Dalam mendesain sebuah program
kita harus memastikan bahwa kita memiliki atau setidaknya dapat mengusahakan
peralatan yang akan kita pakai. Karena ketidak tersediaan alat bisa sangat
mempengaruhi program yang akan dijalankan.
Selain itu kita harus mencari
informasi sebanyak – banyaknya tentang alat yang akan kita gunakan dari orang
yang kompeten di bidang itu. Kita harus mencari tahu informasi tentang
peralatan yang akan kita gunakan dengan demikian kita dapat memilih barang yang
tepat. Peralatan yang kita pilih sebaiknya peralatan yang mudah dipergunakan
dan memiliki resiko yang kecil.
Hal penting lainnya adalah kita
tetap membutuhkan orang – orang yang kompeten dengan peralatan itu. Selain itu
kita jangan terjebak dengan barang – barang yang canggih, namun sebenarnya kita
tidak memerlukan kecanggihannya agar kita tidak terjebak pada mubazir.
d. Waktu dan Jadwal
Dalam menentukan program hendaknya
kita memperhatikan jadwal dan wakti yang tepat. Jangan sampai waktu yang kita
tentukan bentrok dengan kegiatan lainnya. Selain itu kita juga harus
memperhatikan jangan sampai waktu yang kita pilih ternyata bentrok dengan
pprogram lain yang ternyata belum selesai.
e. Kordinasi dengan Aktivitas
Lainnya
Kita pun harus mengkordinasikan
program yang kita buat dengan pihak – pihak lainnya. Misalnya saja untuk
masalah perizinan. Terutama sekali jika siswa yang menjadi bagian dari program
kita adalah siswa yang masih membutuhkan bimbingan orang tuanya. Kita harus
mengkomunikasikan kegiatan ioni dengan orang tua. Bahkan jika perlu kita undang
orang tuanya untuk hadir dan mengawasi program yang telah kita rencanakan.
8. Evaluasi
Selanjutnya
adalah proses evaluasi. Evaluasi harus sejalan dengan tujuan awal pembelajaran.
Selanjutnya tujuan awal pembelajaran akan berperan sebagai acuan dari evaluasi.
Proses evaluasi ini berfungsi untuk mengukur hasil outcome dari pembelajaran
yang telah dilakukan. Selain itu proses evalusi juga berfungsi untuk mengukur
tingkat keberhasilan program pembelajaranyang telah didesain. Dari proses
evaluasi ini kita dapat melihat perbandingan siswa yang lulus dan tidak lulus.
Jika perbandingan siswa yang lulus lebih banyak dibandingkan siswa yang tidak
lulus maka pembelajaran ini dianggap berhasil.
Ada beberapa
bentuk tes yang dapat digunakan untuk proses evaluasi. Salah satunya adalah tes
dengan format pilihan ganda. Tes dengan bentuk seperti ini bisa diterapkan pada
siswa dalam berbagai tingkatan pemahaman baik yang pemahamannya sudah maksimal
maupun belum.
Selain itu
ada juga tes yang berbentuk essay. Tes seperti ini dipakai untuk menguji
tingkat pemahaman siswa akan materi yang dipelajarinya. Dengan bentuk seperti
ini siswa dapat lebih mengapresiasikan pemahamannya dengan lebih leluasa.
Dengan metode seperti ini siswa dapat mengorganisir, menghubungkan dan
mengintegrasikan setiap materi yang telah dipelajarinya.
Selain kedua
bentuk tes tadi ada juga bentuk tes untuk menguji kemampuan psikomotorik. Tes
seperti ini dilakukan dengan cara praktek. Contohnya adalah tes menyetir bagi
seseorang yang sedang mengikuti les menyetir.
Ada beberapa
karakteristik dari tes yang harus diperhatikan yaitu,
1. Tes benar –
benar ditujukan untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran. Namun dalam beberapa
hal, tes juga dapat digunakan untuk mengetes sub tujuan dari pembelajaran;
2. Tujuan
pembelajaran yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran hendaknya tidak
dites denga denga satu cara tapi dites dengan beberapa alternatif cara lainnya.
Hal ini berguna untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat menjawab dan
memperlihatkan kemampouannya dengan maksimal mengingat tujuan tes yang begitu
penting;
3. Tes yang
diberikan benar – benar bersifat semata – mata untuk menguji tujuan utama dari
pembelajaran.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pemanfaatan Platform Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam mendukung MERDEKA BELAJAR | Pembatik Level 4 Tahun 2023
Merdeka Belajar adalah sebuah program yang digagas oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Bapak Nadiem Anwar Makarim seb...
-
PENJELASAN ARTI LAMBANG SEKOLAH SMP NEGERI 1 BARRU KAB.BARRU Oleh: Tim Pengembang Sekolah SMP Negeri 1 Barru Dengan Visi Sekolah ...
-
Selamat Datang di Blog Pengumuman Resmi PPDB Online SMP Negeri 1 Barru Berikut Daftar Nama yang lulus di SMP Negeri 1 Barru Terima Kasi...




