Kamis, 29 Maret 2018

SMP NEGERI 1 BARRU PADA TURNAMEN GALA SISWA INDONESIA (GSI) KABUPATEN BARRU

Dalam upaya meningkatkan mutu sumberdaya manusia Indonesia agar mampu bersaing dalam era keterbukaan, pemerintah memandang perlu untuk menciptakan dan meningkatkan layanan pendidikan kepada seluruh warga negara minimal pada jenjang Sekolah Menengah Pertama. Selain itu berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan juga terus diselenggarakan baik dalam bentuk kegiatan pembelajaran maupun dalam bentuk kegiatan lomba-lomba yang berkaitan pengembangan minat bakat siswa indonesia.


Untuk mewujudkan kegiatan tersebut, khususnya kegiatan Turnamen GALA SISWA INDONESIA (GSI) Tahun 2018 telah disusun berbagai kebijakan dan strategi yang kemudian dijabarkan dalam bentuk program dan atau kegiatan yang dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi, baik di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional oleh berbagai pihak yaitu PSSI sebagai induk olahraga Sepak bola Indonesia, KONI, dan Kemdikbud.

Pada Tingkat paling bawah dalam hal ini adalah tingkat kecamatan, kegiatan Turnamen GALA SISWA INDONESIA (GSI) Tahun 2018 telah bergulir di berbagai daerah di Indonesia, terkhusus bagi Kecamatan Barru yang mengikutkan 4 tim yang berlaga di tingkat kecamatan yaitu SMP Negeri 1 Barru, SMP Negeri 2 Barru, SMP Negeri 3 Barru, dan SMP Negeri Satap 4 Barru yang dilaksanakan pada tanggal 19-22 Maret 2018 di Lapangan Sepakbola Sumpang Binangae, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan.


SMP Negeri 1 Barru Keluar Sebagai Juara Tingkat Kecamatan Barru, dan menjadi tim perwakilan kecamatan Barru untuk berlaga di Tingkat kabupaten hal ini dikonfirmasi langsung oleh Koordinator Panitia Kecamatan Barru bapak Dedy Irawan, S.Pd, M.Pd. Progres untuk kedepannya menurut beliau adalah tim yang menjadi wakil kecamatan haruslah mempersiapkan Tim sebaik mungkin, hal ini dikarenakan kompetesi di tingkat kabupaten lebih ketat dibandingkan di tingkat sebelumnya. untuk itu SMP Negeri 1 Barru mempersiapkan timnya lebih baik dari sebelumnya dengan mengadakan latihan-latihan intensif. Dikonfirmasi langsung oleh pelatih tim SMP Negeri 1 Barru Julianus D. Manuhutu, S.Pd mengatakan bahwa porsi latihan harus ditingkatkan mengingat tensi pertandingan diperkirakan akan tinggi pada tingkat kabupaten.

Semoga SMP Negeri 1 Barru mampu bersaing di tingkat Kabupaten....SMP Negeri 1 Barru "Berkibar"

Credit By Mechanichal

Jumat, 26 Januari 2018



SILABUS OSN 2018 MAPEL IPA

Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan salah satu program Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka
peningkatan mutu pendidikan terutama di bidang sains. Hal ini merupakan
wadah bagi siswa untuk mengimplementasikan Penguatan Pendidikan Karakter
(PPK) melalui sains dalam upaya mengembangkan wahana kompetisi bagi siswa
SMP/MTS Negeri atau Swasta yang sederajat di seluruh Indonesia di bidang
Matematika, IPA, dan IPS. Diharapkan melalui olimpiade ini dapat meningkatkan
atmosfr kompetisi secara sehat dan jujur antar sekolah, sehingga sekolah
berlomba-lomba mengembangkan program peningkatan mutu pembelajaran
dalam mata pelajaran Matematika, IPA, dan IPS dan mengantarkan para siswa
Indonesia mencintai sains. \
Sejak OSN SMP dilaksanakan, banyak sekolah yang telah termotivasi untuk
mengembangkan program peningkatan mutu pembelajaran Matematika, IPA,
dan IPS. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dampak positif dari kegiatan OSN
sudah tampak dan sudah menjadi gerakan nasional untuk mengembangkan
pendidikan sains mulai skala sekolah, pembinaan kecamatan, kabupaten/kota,
provinsi dan nasional.
Agar dampak positif tersebut dapat meluas dan tersebar di 34 provinsi, perlu
dukungan informasi yang dapat membantu sekolah dalam rangka akselerasi
program peningkatan mutu pembelajaran Matematika, IPA, dan IPS terutama
dalam rangka Pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP mulai dari
tingkat Kabupaten/Kota, tingkat Provinsi dan tingkat Nasional.


Klik Disini Download SILABUS OSN IPA 2018

Rabu, 20 Desember 2017

E-Rapor Untuk SMP


Pengantar Dari Direktur. Pembinaan SMP Ditjen. Dikdasmen Kemendikbud 
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan menjelaskan bahwa penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penilaian hasil belajar dimulai dengan merencanakan penilaian, menyusun instrumen, melaksanakan penilaian, mengolah dan memanfaatkan, serta melaporkan hasil penilaian.
Proses penilaian hasil belajar peserta didik, baik oleh pendidik maupun oleh satuan pendidikan, akan lebih sistematis, komprehensif, lebih akurat, dan cepat dilakukan apabila didukung dengan perangkat aplikasi komputer. Berkaitan dengan hal tersebut, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengembangkan aplikasi e-Rapor utuk SMP yang terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), termasuk panduan penggunaannya.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas peran berbagai pihak dalam penyusunan aplikasi e-Rapor ini. Secara khusus disampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada tim pengembang yang telah bekerja keras dalam menuntaskan aplikasi e-Rapor beserta panduannya. Masukan dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk penyempurnaan aplikasi e-Rapor lebih lanjut.




Berikut Surat Edarannya.

Download Aplikasi 
Panduan-Panduan



Website Resmi SMP Negeri 1 Barru

SMP NEGERI 1 BARRU "BER-KIBAR"
"KREATIF, INOVATIF, BERDAYA SAING, DAN RELIGIUS"
-Sekolah Rujukan dan Berkarakter-

Seiring kemajuan perkembangan teknologi abad 21 yang mengedepankan sarana teknologi berbasis online sebagai penyedia informasi, SMP Negeri 1 Barru adalah salah satu sekolah di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi-Selatan yang mengedepankan penyebaran informasinya melalui website resminya yaitu http://smpn1barru.sch.id/, website yang dikembangkan melalui kerjasama stakeholder sekolah yang yang diketuai langsung oleh Kepala Sekolah dalam hal ini bapak Lukman, S.Pd, M.Si dan Koordinator Tim Pengembang website oleh Abdul Zakaria, S.Pd, M.Pd Dkk, diharapkan dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca online yang memang membutuhkan informasi kegiatan-kegiatan di lingkup kelembagaan SMP Negeri 1 Barru.

Berikut tampilan beranda website SMPN 1 Barru.


Hadirnya website ini memungkinkan SMP Negeri 1 Barru yang salah satu sekolah rujukan yang mengedepankan pembangunan karakter di Provinsi Sulawesi Selatan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain yang telah memanfaatkan teknologi dan informasi berbasis online. Semoga website ini bermanfaat bagi para user/pembaca sekalian.

Salam Edukasi dari Kami
Tim Pengembang SMP Negeri 1 Barru








Senin, 18 Desember 2017

Visi Misi SMP Negeri 1 Barru





Visi :
Unggul dalam Prestasi, berlandaskan iman dan taqwa untuk mengabdikan diri terhadap pembangunan berwawasan lingkungan ”.

Misi:

Misi SMP Negeri 1 Barru adalah sebagai berikut :
1.Melaksanakan Pembelajaran dan bimbingan secara efektif untuk mengembangkan pembelajaran secara optimal berdasarkan standar nasional pendidikan.
2. Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama sehingga menjadi sumber kearifan dalam berperilaku
3.Memfasilitasi pengembangan bakat,minat dan daya kreasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler.
4.Menerapkan menejemen parsitipatif dan demokratis dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
5.Mernumbuhkan peran warga sekolah terhadap pembangunan berwawasan lingkungan.6. Menyelenggarakan pendidikan yang menjiwai nilai-nilai bersih, rapi, sopan, santun, religius, dan disiplin.
7.Menyelenggarakan pendidikan yang peduli terhadap pelestarian lingkungan, mencegah pencemaran dan mencegah kerusakan lingkungan hidup.

Selasa, 21 November 2017

PENJELASAN ARTI LAMBANG SEKOLAH SMP NEGERI 1 BARRU KAB.BARRU

PENJELASAN ARTI LAMBANG SEKOLAH SMP NEGERI 1 BARRU KAB.BARRU
Oleh: Tim Pengembang Sekolah SMP Negeri 1 Barru


Dengan Visi Sekolah : “UNGGUL DALAM PRESTASI, BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA UNTUK MENGABDIKAN DIRI TERHADAP PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN ”
Dengan Penjelasan Lambang Sebagai berikut:
1. Perisai Biru dengan Pinggiran Merah, merupakan arti dari Sekolah SMPN 1 Barru memiliki kepercayaan diri dan dapat berinteraksi dengan baik di lingkungan sekitarnya, tentunya dengan berani bertahan dari segala pengaruh negatif dari luar.
2. Tulisan “SMP NEGERI 1” berwarna kuning, memberikan ciri kekuatan bahwa sekolah ini sekolah pertama yang berdiri di kecamatan Barru.
3. Bintang Berwarna Kuning, memiliki arti bahwa Sekolah SMP Negeri 1 Barru selalu menjadi terbaik dan cemerlang diantara lembaga pendidikan formal setingkat di wilayah Kabupaten Barru dalam hasil meningkatkan prestasi yang berlandaskan iman dan taqwa pada peserta didik serta lulusannya.
4. Sayap Putih yang berjumlah 8, melambangkan bahwa sekolah SMP Negeri 1 Barru memiliki niat tulus dalam membangun masa depan dengan landasan delapan (8) Standar Nasional Pendidikan Negara Republik Indonesia yaitu : 1) Kompetensi Kelulusan, Isi, Proses, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Sarana dan Prasarana, Pengelolaan, Pembiayaan Pendidikan serta Penilaian Pendidikan.
5. Pena Berwarna hijau diatas buku berwarna merah putih, memiliki makna bahwa sekolah SMP Negeri 1 Barru sebagai lembaga pendidikan formal mengabdikan diri terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) Negara Republik Indonesia yang berorientasi terhadap perbaikan lingkungan.
6. Tulisan " BARRU " dengan letter hitam diatas pita yang berwarna kuning, mengandung arti bahwa sekolah ini mampu memberikan kekuatan sumber daya manusia (SDM) yang terbaik kepada Kabupaten Barru.
7. Tulisan “1957” berwarna kuning, menandakan tahun berdirinya sekolah SMP Negeri 1 Barru yang memiliki arti sekolah ini mampu kuat bertahan dari tantangan zaman yang dilewatinya.
’SMP Negeri 1 Barru Ber-KIBAR (Kreatif, Inovatif, Berdaya Saing dan Religius’’

Senin, 02 Oktober 2017

SMP Negeri 1 Barru dalam Keterampilan Berpikir Kreatif

SMP Negeri 1 Barru dalam Keterampilan Berpikir Kreatif
Oleh: Faisal Can Putra, M.Pd (Guru IPA SMP Negeri 1 Barru)
Keterampilan Berpikir kreatif (creative thingking skills) berhubungan erat dengan daya cipta seseorang. Rogers (1962) memberikan pemamaparan bahwa sumber dari kreatifitas adalah kecenderungan pengaktualisasian diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk menjadi berfikir matang, kecenderungan untuk mengekspresikan diri dan mengaktifkan semua kemampuan organisme sedangkan Clark Moustakis (1967) memberikan asumsi bahwa kreatifitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungannya dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.
Indikator berpikir kreatif telah dipaparkan sebelumnya bahwa ada ditinjau dari empat (4) aspek yang menjadi tolok ukur dalam berpikir kreatif yaitu aspek fluency, flexibility, originality, dan elaboration sehingga sesorang dapat dikatakan telah berpikir kreatif aabila telah menunjukkan berbagai hal yang bekenaan dengan indikator diatas seperti kebiasaan berpikir, sikap, pembawaan, kepribadian, atau kecakapan dalam memecahkan masalah.
           Indikator berpikir kreatif  dapat dijabarkan dalam bentuk tabel berikut.

Tabel
Indikator Berfikir Kreatif 
No.
Aspek
Penjelasan/Ciri-Ciri
1.
Fluency (kelancaran)
a.Mencetuskan berbagai banyak ide, jawaban dengan lancar.
b.Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
2.
Flexibility (Kelenturan)
a.  Menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
b. Mencari banyak alternative atau arah yang berbeda-beda
c. Mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
3.
Originality (Keaslian)
a.    Mampu melahirkan ungkapan baru dan unik.
b. Memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri.
c. Mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4.
Elaboration (kerincian)
a.    Mampu memperkaya dan mengembangkan  suatu gagasan atau produk.
b.  Menambah atau melakukan rincian terhadap suatu obyek, gagasan, atau situasi, sehingga menjadi  lebih menarik.
Sumber:  Munandar (2012)
           Selain indikator dalam pengembangan berpikir kreatif juga diperlukan alat ukur dalam penentuan ketercapaian berpikir kreatif yaitu:
1)      Tes kemampuan  berfikir divergen (Guilford)
          Model tiga dimensi dari Guilford tentang struktur intelek mencakup dimensi operasi (proses) dengan  lima kategori mental, dimensi content empat kategori, dan dimensi produk dengan enam kategori (Munandar, 2009). Berbagai Macam tes berfikir kreatif dari Guilford yang mengukur kemampuan berfpikir divergen terutama digunakan untuk kelompok remaja dan orang dewasa, meskipun ada juga untuk anak-anak tapi dibatasi pada umur tertentu.
 2)      Tes Torrance Mengenai kemamapuan  berfikir kreatif.
Tes Torrance ini dimaksudkan untuk memicu ungkapan secara simultan (serentak) dari beberapa operasi mental kreatif yang terutama mengukur kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan kerincian (elaborasi). Tes ini disusun sedemikian rupa untuk membuat aktivitasnya menarik dan menantang peserta didik mulai dari pendidikan pra-sekolah sampai sekolah menengah. Tes Torrance dapat diberikan secara perseorangan maupun kelompok. Bentuk verbal terdiri atas tujuh sub-tes: mengajukan pertanyaan, menerka sebab, menerka akibat, memperbaiki produk, penggunaan tidak lazim, pernyataan tidak lazim, dan aktifitas yang diandalkan. Tes figural terdiri dari tiga  sub-tes: tes bentuk, gambar yang tidak lengkap, dan tes lingkaran. Tes verbal diberi skor untuk kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas, sementara tes figural ditambah dengan skor untuk elaborasi.
Tes Torrance juga diberi batas waktu atas dasar pertimbangan baha sa sampai derajat tertentu harus ada press (pendorong) untuk memicu fungsi mental kreatif dengan tetap memberikan dorongan untuk merangsang berfikir kreatif.
3)      Tes berfikir kreatif-produksi menggambar
Tes ini biasa juga disebut Test For Children Creative Thingking –Drawing Production (TCP-DP). Tes ini berbeda dengan kedua tes diatas karena skornya tidak berdasar pada kelangkaan secara secara statistis, tetapi apa yang disebut image production. Responden diminta untuk menyelesaikan gambar yang tidak lngkap, (rangsangan-rangsangan figural), dan penilaiannya mencakup sembilan dimensi, yaitu: melengkapi, melanjutkan, unsur baru, hubungan yang dibuat dengan garis, hubungan yang berkaitan dengan tema, melintasi batas (dua kriteria), perspektif dan humor.
4)      Berfikir kreatif dengan bunyi dan kata
Ukuran talenta kretif lainnnya berhubungan dengan orisinalitas dan imajinasi; tamsil (imaginery) dan analogi, yaitu thingking creativity with sound and words). Tes ini berisikan dua ukuran orisinalitas verbal yang salah satunya menstimulus rangsangan berupa bentuk suara bunyi denganrantang dari bunyi yang sederhana sampai bunyi yang rumit. Suara-suara ini akan memunculkan reapon intelektual manusia yang berinteraksi dengan emosi sehingga memunculkan tanggapan yang imajinatif.
5)      Inventory Khatena- Torrance mengenai perspektif kreatif.
           Istrument ini biasa disebut Khatena-Torrance Creative Perception Inventory yang dirancang untuk anak umur 10-11 tahun remaja maupun dipergunakan juga untuk orang dewasa. Instrument ini dikembangkan dengan melihat atau mengamati diri seseorang, melalui daftar periksa, kuisioner, dan inventory. Dimana dimensi dari pengukuran ini terdiri dari dua dimensi yaitu  didasari pertimbangan bahwa diri seseorang mempunyai keakuan secara psikologis dengan cara perilaku kreatif maupun tidak kreatif dalam artian bahwa ada upaya untuk menunjukkan  siapa jati dirinya melalui tindakan kreatif. Dimensi berikutnya adalah didasari bahwa kreatifitas itu tercermin dari karakteristik kepribadian orang itu sendiri, dalam cara berfikirnya dan dalam produk-produk yang muncul sebagai hasil dari dorongan kreatif bagi peserta didik SMPN 1 Barru.
Berkenaan dengan hal tersebut penumbuhan pemikiran kreatif bagi peserta didik khususnya di SMP Negeri 1 Barru Sangat Perlu dilatihkan sebagai modal dasar dalam kompetensi abad 21 yang sekarang ini digencarkan oleh pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan yang tertuang dalam kurikulum 2013.

          

Senin, 18 September 2017

Model Desain Pembelajaran J. Kemp

J. Kemp: Model Desain Pembelajaran 
Oleh: Faisal Can Putra, M.Pd
Desain pembelajaran menurut Kemp, terdiri dari banyak bagian dan fungsi yang saling berhubungan dan mesti dikerjakan secara logis agar mencapai apa yang diinginkan.Rencana pembelajaran di desain untuk menjawab tiga pertanyaan, ini merupakan pertanyaan terhadap hal-hal yang diperlukan dalam mendesain pembelajaran yaitu:
1. Apa yang mesti diajarkan?
2. Apa prosedur dan sumber yang akan bisa untuk menjangkau mutu pembelajaran yang diinginkan?
3. Bagaimana caranya kita untuk mengetahui nilai yang diperoleh dari pembelajaran tersebut?
Pada dasarnya,perencanaan dalam desain pembelajaran terdiri atas delapan langkah:
a. Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
b. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
d. Menentukan isi meteri pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
e. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
f. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenagkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
h. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan.

  Pada gambar diatas dapat disimpulkan bahwa adanya saling ketergantungan antara delapan komponen.Keputusan terhadap satu bagian saja akan berpengaruh pada yang lain, jadi dalam merancang suatu desain pembelajaran dibutuhkan ketelitian serta kecermatan dalam membuat suatu keputusan yang akan berdampak bagi hasil yang akan dicapai.

1. Tujuan, Topik, dan Tujuan Umum
Tujuan di perlukan agar hasil perencanaan nantinya dapat mengembangkan kompetensi yang akan menolong pelajar agar dapat bepartisipasi dalam lingkungan masyarakat, selain itu, tujuan mesti mengenal perubahan dalam kebutuhan pelajar dan keterkaitannya dengan apa yang seharusnya diberikan pada siswa.
Semua program pembelajaran hendaknya didasarkan pada pengembangan tujuan dan tujuan-tujuan itu dapat diambil dari tiga sumber yaitu masyarakat, pelajar itu sendiri, dan kawasan pembelajaran.Sebenarnya, tujuan-tujuan itu terdiri atas filsafat dan dari pertimbangan etika serta tuntutan dari masyarakat yang menghendaki hasil(out put) pembelajaran tersebut.
Sebuah perencanaan mesti menentukan topik utama.Topik tersebut akan menjadi cakupan program pembelajaran yang dibuat.Topik biasanya disusun secara logis, paling simpel, dan konkret sehingga orang dapat lansung melihat gambaran dari rencana program pembelajaran tersebutTopik dapat disusun berdasarkan pengalaman yang didapat atau pemikiran yang menjadi dasar sesuatu yang akan dibuat.
Ketika tim pembelajaran untuk kali pertama menentukan tujuan umum, banyak dari mereka yang menggunakan istilah-istilah penting sebagai penunjang atau penggambaran topik agar dapat memahami dengan benar keluaran(output) dari rancangan pembelajaran.
Berikut beberapa pernyataan dari tujuan umum yang biasanya digunakan untuk menggambarkan topik:
ü Uutuk memperoleh kemampuan apa
ü Untuk menilai
ü Untuk menjadi tahu akan
ü Untuk menjadi akrab dengan
ü Untuk dikenalkan pada
ü Untuk percaya dalam
ü Untuk memahami
ü Untuk memutuskan
ü Untuk menikmati
ü Untuk mengetahui arti dari
ü Untuk memiliki perasaan pada
ü Untuk mengenali
ü Untuk belajar
ü Untuk meniru
ü Untuk menguasai
ü Untuk merasakan
ü Untuk mengerti
ü Untuk menggunakan
Jadi perencanaan pembelajaran sering dimulai dengan pernyataan yang berorientasikan pada tujuan umum bagi topik yang telah ada sebelumnya.
2. Karakteristik Pelajar
Ketika mendesain sebuah rencana pembelajaran, kita mesti cepat memutuskan karakteristik dari siswa karena dengan mengetahui karakteristik tersebut sangat membantu dalam membuat perencanaan pembelajaran. Faktor-faktor yang mesti diperhatikan dalam membantu menentukan karakteristik siswa yaitu:
Faktor akademi,antara lain jumlah siswa, latar belakang akademi/ pendidikan, rata-rata nilai, tingkat kepintaran, tingkatan membaca, prestasi dan tes kemampuan, adat kebiasaan, kemampuan untuk bekerja sendiri, latar belakang pelajaran atau topik, motivasi untuk belajar, harapan-harapan belajar, dan aspirasi kebudayaan.
Faktor soial, antara lain umur, tingkat kematangan, bakat spesial, emosi dan kejiwaan, hubungan antar pelajar.
Informasi-informasi dari kandungan faktor-faktor di atas dapat diperoleh dari kumpulan catatan siswa dan dari konsultasi dengan guru-guru, bimbingan konseling, dan lain-lain. Hasil dari daftar informasi tersebut, sebaiknya ditambah dengan survai perilaku dan tes awal.
Faktor lain seperti kondisi dan gaya belajar juga mesti dicatat dan diperhatikan pada saat perencanaan agar ciri-ciri pelajar yang diidentifikasi dapat lebih sempurna.
3. Tujuan Pembelajaran
Semua tujuan pembelajaran mesti diwujudkan sebagai syarat yang akan meningkatkan aktivitas pembelajaran.Dengan menciptakan tujuan-tujuan yang pasti, kita dapat mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita ajarkan dan kemudian dapat memutuskan apa-apa saja yang telah dicapai.
Menentukan tujuan merupakan sebuah aktivitas yang bersifat pengembangan yang meminta ketelitian, perubahan, dan penambahan. Bagi sebagian guru, tujuan dapat menjadi jelas setelah pelajaran dibuat garis besarnya.
Kategori dari tujuan pembelajaran dapat dikelompokkan mejadi tiga bagian yaitu:
Kognitif, merupakan kategori yang memberikan perhatian yang lebih dalam program pendidikan. S.Bloom.dkk, sebuah taksonomi bagi kognitif. Dalam hal ini, dia (kognitif) dimulai dari pengetahuan sederhana sampai tingkat tertinggi yaitu:
a. Mengetahui, merupakan kemampuan untuk mengingat, mengulang kembali apa yang didapat dan lain sebagainya;
b. Memahami, merupakan kemampuan untuk menafsirkan informasi yang diperoleh;
c. Penerapan atau aplikasi, merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi, teori-teori, prinsip-prinsip/ hukum-hukum dari situasi baru;
d. Analisis, merupakan kemampuan untuk membagi pengetahuan yang rumit menjadi bagian-bagian yang terurai dan mengetahui hubungan tiap bagian;
e. Sintesis, merupakan kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian yang terpisah menjadi bentuk baru;
f. Evaluasi, merupakan kemampuan untuk menilai berdasarkan pada pengetahuan / pemberian kriteria.
Kriteria yang kedua adalah psikomotor.Ini adalah kemampuan dalam menggunakan dan mengkoordinasi otot rangka dalam aktivitas fisik dan melakukan sesuatu. Psikomotor ini meliputi:
Ø Pergerakan tubuh yang kasar;
Ø Pergerakan halus dikoordinasi;
Ø Komunikasi non-lisan;
Ø Tingkah laku berbicara.
Kategori yang ketiga adalah afektif.Ini meliputi sikap, penilaian atau penghargaan, nilai-nilai dan emosi seseorang.David R.Krathwohl.dkk membagi afektif dalam lima tingkatan:
1. penerimaan, keinginan untuk memberikan perhatian pada sebuah aktivitas;
2. menanggapi, keinginan untuk mereaksi sesuatu;
3. Penilaian, keinginan untuk menerima sesuatu melalui sikap yang positif;
4. Pengorganisasian, ketika menemukan situasi yang memiliki lebih dari satu penerapan, keinginan untuk mengorganisasi nilai dapat digunakan;
5. Penggambaran sebuah nilai yang kompleks.
Sekarang kita beralih pada prosedur dalam penulisan tujuan pembelajaran.adapun prosedur dalam menulis tujuan tersebut yaitu:
a. Dimulai dengan sebuah tindakan yang menggambarkan perilaku/ aktivitas oleh pelajar;
b. Mengikuti perilaku dengan referensi yang menggambarkan sesuatu yang lagi disenangi;
c. Jika bagian-bagian yang diperlukan tersebut memerlukan beberapa hitungan, tambahkan standar performance yang mengidentifikasi pencapaian minimum yang dapat diterima;
d. Sebagai kebutuhan pemahaman siswa dan agar menetapkan keperluan evaluasi, tambahkan beberapa kriteria-kriteria;
Tujuan perencanaan pembelajaran juga memiliki keuntungan dan kelemahan, antara lain:
Kelebihan
  1. Kerangka dari beberapa tujuan program pembelajaran dibuat atas kompetensi dasar, dimana siswa menguasai pembelajaran merupakan sebuah harapan untuk dapat menjadi dampak dikemudian hari;
  2. Tujuan menginformasikan siswa apa yang akan dituntut atau diminta dari mereka;
  3. Tujuan membantu perancang program pembelajaran untuk berpikir secara jelas dan mengatur serta mengurutkan seuatu;
  4. Tujuan mengidentifikasi tipe dan meningkatkan aktivitas yang diperlukan untuk menyukseskan pembelajaran;
  5. Tujuan menyediakan dasar pengevaluasian dengan pembelajaran siswa;
  6. Tujuan menyediakan sesuatu yang baik untuk berkomunikasi.
Kelemahan
  1. Hampir semua tujuan berhubungan dengan tingkat kognitif yang rendah;
  2. prosedur digunakan untuk menetapkan penerapan tujuan yang baik untuk kognitif dan psikomotor namun afektif tidak demikian;
  3. Pada saat tujuan boleh jadi digunakan dalam pembelajaran yang membutuhkan struktur kandungan yang tinggi seperti matematika dan sains, mereka dibatasi menggunakan sesuatu yang erat dengan kemanusiaan seperti seni, ilmu sosial dan lain sebagainya;
  4. Guru tidak dapat menentukan semua dampak kemajuan dari program pembelajaran;
  5. Membuat pembelajaran terlalu bersifat mekanik dan perorangan.
4. Menentukan Isi Materi
Materi harus berdasarkan pada tujuan pembelajaran. Karena bagian terpenting dari desain pembelajaran terletak pada tujuan pembelajaran itu sendiri. Dalam beberapa kasus, isi dari materi pembelajaran adalah turunan dari tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran dapat diartikan sebagai apa yang akan dituju oleh materi pembelajaran. Atau dengan kata lain, tujuan pembelajaran adalah hasil dari materi pembelajaran.
Dalam pembelajaran yang bersifat tradisional biasanya para guru menjadikan materi pembelajaran sebagai titik berangkat dario sebuah pembelajaran dan hal itu masih banyak terjadi hingga hari ini.
Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam mengorganiusir isi pembelajaran. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan dalam menentukan isi pembelajaran yaitu mencakup pemilihan dan pengaturan dari pengetahuan yang spesifik, skill, dan faktor sikap / pendirian.
Dalam menetukan level tujuan kita dapat memakai prinsip pembelajaran behavior-nya Gagne yaitu fakta, konsep, hal – hal yang terpenting, dan problem solving.
Jika siswa sudah mempelajari hal – hal penting dalam suatu pembelajaran maka selanjutnya diharapkan mereka dapat mengaplikasikannya dan dapat dikorelasikan dengan situasi masalah. Langkah – langkah itu adalah:
  1. menerangkan kejadian;
  2. menduga alasan;
  3. memprediksi konsekuensi;
  4. mengontrol situasi;
  5. dan memecahkan masalah.
5. Penilaian Awal
Penilaian awal memiliki peranan yang cukup penting dalam model desain ini. Dengan melakukan hal ini kita dapat mengetahui tingkat pengetahuan yajg dimiliki oleh murid. Mengetahui kondiosi pengetahuan murid sangat membantu kita dalam mendesain pembelajaran.
Penilaian awal juga dapat membantu untuk mengevisiensikan pembelajaran. Dengan melakukan tahapan ini kita dapat mengetahui tingkatan pengetahuan murid. Dengan demikian seorang murid tiodak perlu membuang – buang waktu untuk mempelajari kembali materi yang telah mereka kuasai. Ada dua hal yang dapat kita lakukan dalam Pre-Assessment yaitu prerequisite test dan pretest.
Identifikasi Pengalaman Siswa
Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah siswa memiliki pengalaman / ilmu yang terkait dengan materi yang akan diberikan. Tes ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti menyebar angket, melihat hasil pekerjaan siswa, mengobservasinya ketika tengah bekerja, atau dengan wawancara. Dengan melakukan proses ini kita dapat memilah dan memilih materi apa saja yang tidak perlu disampaikan, disampaikan sebagian saja, atau bahkan disampaikan mulai dari tingkatan dasar.
Pretest
Tahapan lainnya dalah pretest. Pretest dilakukan untuk pemahaman siswa terhadap materi yang akan diberikan. Untuk beberapa kasus ada yang mendampingkan pretest dengan posttest dengan demikian kita dapat meihat hasil pembelajaran dengan membandingkan hasil pretest dan posttest. Keuntungan lainnya adalah hasil posttest dapat digunakan sebagai prerequisite test untuk materi lain yang memiliki keterklaitan dengan materi ini.
Dalam pelaksanaannya, pretest tidak selalu harus dilakukan dengan konsep formal. Misalnya saja kita dapat bertanya langsung pada siswa di dalam kelas. Kita dapat bertanya berapa banyak di antara mereka yang telah mengerti dengan materi yang akan diberikan. Jumlah siswa yanhg mengangkat tangan dapat menjadi data yang sangat berguna bagi kita.
Di lapangan, pretest tidak terlalu berpengaruh pada pembelajaran tradisional yang masih bersifat masif karena pembelajaran seperti itu lebih terkesan menyamaratakan kondisi siswa. Tapi manfaat dari pretest dapat kita ambil ketika kita melakukan pembelajaran yang bersifat personal.
Manfaat lainnya adalah untuk mengenalkan siswa pada materi yang akan dia pelajari. Namun, ada yang harus kita perhatikan ketika kita melakukan pretest, faktanya tidak semua siswa siap dalam menmghadapi tes seperti itu. Sebelumnya kita harus memberitahukan bahwa hasil dari tes ini tidak ada sngkut pautnya dengan nilai yang akan ,mereka peroleh.
6 Aktivitas Belajar Mengajar dan Sumber – Sumber Pembelajaran
Tahapan ke enam dari model pembelajaran Kemp membicarakan tentang aktifitas belajar – mengajar dan sumber – sumber bejalar. Pada tahapan ini dijelaskan tentang bentuk – bentuk dari kegiatan bejalar yang efektif dan media – media yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.
Dalam melakukan proses pembelajaran hendaknya kita memilih alternatif kegiatan yang paling efektif dan sesuai dengan keadaan siswa. Namun demikian sebenarnya tidak ada rumus yang baku untuk mensinkronkan alternatif jenis kegiatan pembelajaran dengan kebuituhan dan kodisi siswa. Namun kita masih dapat menentukan jenis alternatif pembelajaran dengan cara menganalisis setiap kelebihan dan kekurangannya lalu disinkronkan dengan keadaan siswa.
Umumnya para guru dapat mendesain pembelajaran dengan bantuan buku manual. Namun hal itu hanya terbatas pada pembelajaran yang bersifat tradisional saja. Padahal ilmu pendidikan senantiasa berkembang dan terus mengeluarkan produk – produk baru yang lebih canggih lagi. Dari sinilah masalah muncul, karena para guru tidak menguasai produk – produk baru tersebut. Di sinilah peran seorang pendesain diperlukan.
Bentuk Pembelajaran
Dalam perkembangan selanjutnya ada tiga alternatif pembelajaran yang memiliki kelebihan jika dibanding dengan alternatif lainnya. Tiga alternatif itu adalah presentasi group presentation, individualized learning, dan interaction between teacher and student.
Ada beberapa alasan yang mendasari ketiga alternatif pembelajaran di atas. Bentuk pembelajaran di atas dilinai lebih efisien dan efektif karena dengan melakukan presentasi proses penyampaian informasi lebih bersifat massif. Selain itu setiap siswa memiliki kondisi poercepatan pemahan yang berbeda dalam memahami suatu materi.
a. Group Presentation
Pada kegiatan ini guru atau siswa melakukan sebuah presentasi untuk menyampaikan sebuah materi. Kegiatan seperti ini harus ditunjang oleh tempat yang memadai seperti di dalam kelas atau aula. Dalam pelaksanaannya penyaji dapat menggunakan alat bantu untuk menyampaikan presentasinya alat iotu dapat berupa media audio, visual, atau audio visual.
Ada tiga karakter manusia yang akan ditunjukkan oleh siswa dalam kegiatan ini. Karakter pertama adalah siswa yang aktif berinteraksi. Siswa akan aktif dalam kegiatan diskusi, ia akan berpendapat, bahkan tetap berkonsultasi dengan penyaji setelah kegiatannya selesai. Tipe kedua adalah siswa yang hanya bekerja di tempat duduknya. Dan karakter ketiga adalah siswa yang bersifat kritis pada setiap materi yang disampaikan oleh penyaji dan biasanya keikutsertaannya lebih cenderung ke arah banyak bertanya.
b. Individualized Learning
Yang melatar belakangi konsep ini adalah bahwa setiap orang memiliki tingkat kecerdasan dan percepatan pemahaman yang berbeda. Selain itu setiap siswa juga memiliki pola pikir dan cara belajar yang berbeda. Untuk itu, guru harus dapat mendesain jenis pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan karakteristik yang dimiliki oleh siswa. Istilah lain untuk bentuk pembelajaran seperti ini adalah self instruction, independent study, individualized prescribed instruction, dan self directed atau self-paced learning.
c. Interaction between Teacher and Students
Format pembelajaran seperti ini adalah pembentukan kelompok – kelompok kecil. Dalam kelompok itu guru dan siswa melakukan diskusi dan saling bertukar pikiran sehingga dapat terjadi proses mengambiol pelajaran dari peserta lainnya dengan metode ini juga setiap peserta akan dapat saling memahami karakter satu sama lain.
Agar memperoleh hasil yang maksimal, maka anggota kelompok ini harus dibatasi. Kelompok ini terdiri dari tujuh sampai 12 orang. Ada beberapa kelebihan yang dapat diambil dari model ini. Dengan model ini para peserta akan terlatih dalam kemampuan mendengar dan berbicara. Hal ini terlatih ketika mereka tengah menyampaikan pendapat. Selain itu, bentuk ini juga melatih kepemimpinan.
Sumber Belajar
Hal penting yang tidak boleh kita lupakan adalah media sumber belajar. Hendaknya kita memilih media yang cocok dengan kondisi dan materi yang akan diberikan. Media yang baik dapat memotifasi siswa dan dapat menjelaskan materi secara efektif serta mengilustrasikan isi materi. Media yang digunakan dapat bermacam – macam. Media yang digunakan dapat berupa media cetak, media audio, media visual, dan media audio visual yang terpenting media itu dapat menunjang kegiatan personal maupun kelompok.
7 Sarana Penunjang
Selanjutnya kita memerlukan beberapa hal yang dapat menunjang program pembelajaran. Hal itu diantaranya adalah biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan jadwal, serta kordinasi dengan aktifitas lainnya.
a. Biaya
Dana merupakan hal yang amat krusial dalam pengembangan pendidikan. Semua program baru yang akan dipakai tentunya memerlukan dana untuk memulainya. Sekolah yang ingin mengembangkan program pendidikannya misalnya saja dengan membuat inovasi baru, penelitian, dan pengembangan memerlukan biaya untuk menjalankannya. Pemanfaatan biaya dilakukan ketika masa pengembangan dan selama pemakaian peralatan.
b. Fasilitas
Proses pembelajaran tentunya membutuhkan fasilitas yang memadai untuk keberlangsungannya. Berikut adalah kegiatan beserta fasilitas yang dibutuhkannya.
  1. Dalam kegiatan presentasi, kita membutuhkan proyektor audio visual, sound sistem, dan perlengkapan lainnya.
  2. Tempat pembelajaran mandiri. Merupakan sebuah tempat yang diperuntukkan untuk para siswa dalam melakukan proses pembelkajaran mandiri.
  3. Ruangan untuk kegiatan belajar kelompok. Ruangan ini didesain dengan furniture yang tidak formal. Kemudian dilengkapi dengan proyektor audio visual, dan papan display misalnya papan tulis.
  4. Ruang peralatan. Ruang ini digunakan untuk menyimpan barang – barang yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Dari ruang ini pula dikordinirnya setiap peralatan yang digunakan untuk membantu proses pembelajara.
  5. Ruang rapat untuk staff.
c. Peralatan
Dalam menjalankan program yang telah dijalankan tentunya kita memerlukan beberapa peralatan untuk menunjang kegiatan tersebut. Dalam mendesain sebuah program kita harus memastikan bahwa kita memiliki atau setidaknya dapat mengusahakan peralatan yang akan kita pakai. Karena ketidak tersediaan alat bisa sangat mempengaruhi program yang akan dijalankan.
Selain itu kita harus mencari informasi sebanyak – banyaknya tentang alat yang akan kita gunakan dari orang yang kompeten di bidang itu. Kita harus mencari tahu informasi tentang peralatan yang akan kita gunakan dengan demikian kita dapat memilih barang yang tepat. Peralatan yang kita pilih sebaiknya peralatan yang mudah dipergunakan dan memiliki resiko yang kecil.
Hal penting lainnya adalah kita tetap membutuhkan orang – orang yang kompeten dengan peralatan itu. Selain itu kita jangan terjebak dengan barang – barang yang canggih, namun sebenarnya kita tidak memerlukan kecanggihannya agar kita tidak terjebak pada mubazir.
d. Waktu dan Jadwal
Dalam menentukan program hendaknya kita memperhatikan jadwal dan wakti yang tepat. Jangan sampai waktu yang kita tentukan bentrok dengan kegiatan lainnya. Selain itu kita juga harus memperhatikan jangan sampai waktu yang kita pilih ternyata bentrok dengan pprogram lain yang ternyata belum selesai.
e. Kordinasi dengan Aktivitas Lainnya
Kita pun harus mengkordinasikan program yang kita buat dengan pihak – pihak lainnya. Misalnya saja untuk masalah perizinan. Terutama sekali jika siswa yang menjadi bagian dari program kita adalah siswa yang masih membutuhkan bimbingan orang tuanya. Kita harus mengkomunikasikan kegiatan ioni dengan orang tua. Bahkan jika perlu kita undang orang tuanya untuk hadir dan mengawasi program yang telah kita rencanakan.
8. Evaluasi
Selanjutnya adalah proses evaluasi. Evaluasi harus sejalan dengan tujuan awal pembelajaran. Selanjutnya tujuan awal pembelajaran akan berperan sebagai acuan dari evaluasi. Proses evaluasi ini berfungsi untuk mengukur hasil outcome dari pembelajaran yang telah dilakukan. Selain itu proses evalusi juga berfungsi untuk mengukur tingkat keberhasilan program pembelajaranyang telah didesain. Dari proses evaluasi ini kita dapat melihat perbandingan siswa yang lulus dan tidak lulus. Jika perbandingan siswa yang lulus lebih banyak dibandingkan siswa yang tidak lulus maka pembelajaran ini dianggap berhasil.
Ada beberapa bentuk tes yang dapat digunakan untuk proses evaluasi. Salah satunya adalah tes dengan format pilihan ganda. Tes dengan bentuk seperti ini bisa diterapkan pada siswa dalam berbagai tingkatan pemahaman baik yang pemahamannya sudah maksimal maupun belum.
Selain itu ada juga tes yang berbentuk essay. Tes seperti ini dipakai untuk menguji tingkat pemahaman siswa akan materi yang dipelajarinya. Dengan bentuk seperti ini siswa dapat lebih mengapresiasikan pemahamannya dengan lebih leluasa. Dengan metode seperti ini siswa dapat mengorganisir, menghubungkan dan mengintegrasikan setiap materi yang telah dipelajarinya.
Selain kedua bentuk tes tadi ada juga bentuk tes untuk menguji kemampuan psikomotorik. Tes seperti ini dilakukan dengan cara praktek. Contohnya adalah tes menyetir bagi seseorang yang sedang mengikuti les menyetir.
Ada beberapa karakteristik dari tes yang harus diperhatikan yaitu,
1. Tes benar – benar ditujukan untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran. Namun dalam beberapa hal, tes juga dapat digunakan untuk mengetes sub tujuan dari pembelajaran;
2. Tujuan pembelajaran yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran hendaknya tidak dites denga denga satu cara tapi dites dengan beberapa alternatif cara lainnya. Hal ini berguna untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat menjawab dan memperlihatkan kemampouannya dengan maksimal mengingat tujuan tes yang begitu penting;
3. Tes yang diberikan benar – benar bersifat semata – mata untuk menguji tujuan utama dari pembelajaran.


Pemanfaatan Platform Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam mendukung MERDEKA BELAJAR | Pembatik Level 4 Tahun 2023

Merdeka Belajar adalah sebuah program yang digagas oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Bapak Nadiem Anwar Makarim seb...